Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dalam Rindu Yang Membara

Dalam Rindu yang Membara

Dalam Rindu yang Membara

Di pagi yang dingin, saat langit mulai berbisik tentang hari yang baru, aku menatap bayangmu yang terlukis di langit benakku. Rindu ini tak hanya sebatas harap yang merajuk, tapi luka yang mengukir di lubuk terdalam jiwa, menunggu waktu untuk bersatu kembali dalam dekapan mimpi dan kenyataan.

Di setiap desiran angin yang lembut, aku mendengar suara rintihan hatimu yang menyapa sunyi, mengalir begitu lirih di sela-sela waktu yang terus berjalan. Rindu ini bagaikan matahari yang tenggelam di cakrawala, menyisakan gelap yang penuh harap menanti fajar menyingsing, menyinari seluruh relung yang pantas untuk dipersatukan.

Dalam sunyi, aku membayangkan saat kita berjumpa lagi, di bawah pohon tua yang menyimpan rahasia penuh kenangan. Senyum dan bisikmu adalah nyanyian yang selalu mengalun di telinga, memecah keheningan dengan kehangatan yang mampu membakar dingin di relung hati. Setiap detik tanpa hadirmu adalah jarak yang terlalu jauh, namun cinta ini tetap menempel seperti benang halus yang tak pernah putus.

Rindu ini bukan sekadar kerinduan yang menunggu jawaban di luar sana, namun juga perjalanan panjang menembus batas-batas waktu dan ruang. Kusempurnakan setiap nada yang terucap dalam doaku, menenun asa agar suatu saat nanti, kita dapat bertemu lagi, bukan hanya dalam mimpi, tetapi nyata di dunia yang hanya kita berdua pahami.

Di balik semua keheningan yang membelenggu, tersimpan sebuah janji yang tak pernah pudar: bahwa hati ini tetap setia menunggu, meskipun dunia berbalik menjadi abu dan bayangmu perlahan pudar di mata. Rindu ini melekat erat, membentuk sebuah simfoni abadi yang mengalun di alam semesta, menembus segala batas keangkuhan waktu.

Dan saat aku tenggelam dalam harapan yang tak pernah padam ini, aku tahu bahwa suatu hari nanti, matahari akan kembali bersinar di langit hatimu, membawa sinar cinta yang tak pernah pudar. Hingga saat itu tiba, aku akan tetap menaruh rindu ini dalam setiap hela nafas, menunggu momen ketika kita berpadu kembali dalam pelukan keabadian.

Penutupan puisi (epilog reflektif)

Rindu ini adalah perjalanan tanpa akhir, yang mengajarkan bahwa cinta sejati tak pernah hilang, hanya tertidur dalam diam menantikan kebangkitan hari. Semoga suatu saat, di persimpangan waktu dan takdir, saat matahari terbit lagi, kita akan saling menyapa di dunia yang penuh harapan ini.

#rindu #cintasemesta #penantian #keabadian

Posting Komentar untuk "Dalam Rindu Yang Membara"